Berita dan Informasi

Informasi, Catatan & Liputan Kegiatan
Berita / Internal

Refleksi Satu Tahun FLEGT di Auditorium DR. Soejarwo

Pada tanggal 30 November 2017, bertempat di Auditorium DR. Soejarwo, Gedung Manggala Wanabhakti diadakan acara "Refleksi Satu tahun Lisensi FLEGT". Setahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 November 2016, Indonesia secara resmi mendapatkan lisensi FLEGT dari Uni Eropa. Dengan adanya lisensi ini otomatis produk kayu yang berasal dari Indonesia yang mengikuti prosedur Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dapat diterima di wilayah Uni Eropa. Skema FLEGT dibuat pada tahun 2003 dan merupakan respon Respon Uni Eropa untuk menangani pembalakan liar, hal ini dinyatakan dalam sebuah kebijakan Rencana Tindak Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan Uni Eropa (Forest Law Enforcement, Governance and Trade Action Plan).

Memang lisensi yang didapatkan dari Uni Eropa baru berjalan setahun, namun proses-proses yang terjadi agar kayu di Indonesia dapat diterima langsung ke 28 negara yang tergabung dalam Uni Eropa tidak dimulai setahun yang lalu. Bertahun sebelumnya Indonesia telah mengembangkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) merupakan sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memastikan bahwa kayu dan produk kayu dapat diverifikasi dalam rangka menjamin sumber yang legal dan lestari. Agar proses-proses yang terjadi berjalan dengan baik dan untuk mengawal serta memastikan implementasi SVLK, pada tanggal 23 September 2010 telah disepakati dan dideklarasikan sebuah Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) oleh 29 organisasi masyarakat sipil dari yang tersebar dari Aceh sampai Papua dalam sebuah pertemuan lokakarya FLEGT, 21-23 September 2010, di Jakarta.

Acara refleksi terselenggara atas kerjasama antara European Forest Institute (EFI), Multistakeholder Forestry Programme (MFP3), Indonesian Legal Wood, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta DFID. Pada pukul 9.00 WIB kegiatan refleksi dimulai oleh Dr.Ir. Ida Bagus Putera Parthama, M.Sc., Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyampaikan kemajuan-kemajuan yang terjadi sejak Indonesia menerima lisensi FLEGT setahun yang lalu. Kemudian berturut-turut H.E. Vincent Guérend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam serta Moazzam Malik, Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia menyampaikan pandangannya masing-masing tentang setahun berjalannya lisensi FLEGT. Sesuai waktu yang ditentukan, akhirnya Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. memberikan sambutan dan membuka acara refleksi.

Salah satu pandangan yang patut menjadi catatan dari refleksi ini adalah pernyataan dari H.E. Vincent Guérend. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam yang mengatakan, "Adanya FLEGT ini juga memberikan manfaat bagi manusia dan bumi. Dan pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan dan membantu Indonesia dalam upayanya mengelola hutan secara lestari dan menggunakannya untuk membatasi perubahan iklim" (The FLEGT partnerships aim to benefit both people and the planet. They strengthen rights, increase prosperity and help Indonesia in its efforts to manage its forests sustainably and use them to limit climate change).