Hancurnya Hutan Sumbawa

Forestfund, 15 Maret 2021. Dalam lima tahun terakhir praktek illegal logging dan pembalakan liar dalam kawasan hutan di Kabupaten Sumbawa semakin marak membawa kehancuran bagi ‘hutan madu’. Lembaga Olah Hidup mencatat sejak tahun 2001 hingga tahun 2005 hutan asli tersisa seluas 38,06%, sedangkan hingga akhir tahun 2020 hutan kritis diperkirakan mencapai 72,06%, sedangkan hutan yang rusak parah sekitar 81.499, 18 ha (21%).

Investigasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut menyebutkan bahwa selain illegal logging, kerusakan hutan terjadi akibat peningkatan perambahan kawasan hutan. Salah satunya terjadi di KPH Ampang Plampang. Perambahan di KPH Ampang Plampang sekitar 19.030,67 ha, pada akhir 2020 meningkat menjadi 21.631,61 ha, dalam 2 tahun ada peningkatan sekitar 2.600,94 ha. Dari luas Kawasan Hutan tersisa sekitar 19.001, 76 ha, yang masih dalam kondisi utuh belum dijamah (perawan) diperkirakan hanya sekitar 13.200 ha.

Sementara pada tahun 2016 di Ampang Riwo pada wilayah RTK 70 mengalami hal serupa dengan kondisi kawasan sangat kritis sekitar 146,28 ha, kritis sekitar 436,21 ha dan agak kritis mencapai 901,85 ha, sehingga total yang kritis sekitar 1.484,34 ha. Dan yang potensial kritis sekitar 16.381,86 ha. Dari luas kawasan yang potensial kritis sekitar 16.381,86 ha pada tahun 2016, dalam rentang waktu 5 tahun saat ini diperkirakan menyusut sekitar 4.227 ha, dan hanya tersisa 12.154,86 ha, sehingga luasa kawasan yang kritis bertambah menjadi sekitar 5.711,34 ha. Dan saat ini kawasan hutan yang masih utuh belum dijamah diperkirakan hanya sekitar 2.461,01 ha.

Pada akhir 2017 Lahan kritis pada areal kerja Balai KPH Orong Telu Brang Beh seluas 54.012,44. hektar, yang di dalam kawasan, agak kritis 21.636,13 ha, kritis 783, 87 ha, sangat kritis 2000 ha sehingga totalnya mencapai 24.420 ha. Bila dikurangi dengan lahan kritis BKPH Brang Beh 6.792,46 ha akan tersisa sekitar 17.627,54 ha. Pada akhir 2020 dalam rentang waktu 3 tahun luas hutan kritis dengan berbagai tingkatannya diperkirakan sudah mencapai sekitar 21.700 ha, yang potensial kritis sekitar 13.049 ha dan diperkirakan kawasan yang masih utuh (perawan) tidak dijamah hanya sekitar 12.500 ha.

Kondisi di beberapa tempat tersebut merupakan potret kerusakan hutan Sumbawa secara umum. Dugaan adanya pencucian kayu dan monaipulasi dokumen dalam tata usaha kayu di ikut memberikan andil dalam kerusakan hutan di wilayah tersebut.