SVLK Dongkrak Ekspor Produk Kayu

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan keras membantah anggapan sejumlah pihak yang menyebutkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang telah diwajibkan sejak tahun 2009 gagal menembus pasar ekspor. KLHK menegaskan SVLK telah berpengaruh besar terhadap volume ekspor produk kayu RI.

Dirjen Pengelolaan Produk Hutan Lestasi KLHK, yang juga merupakan pendiri Independent Forest Monitoring Fund (IFM Fund), Ida Bagus Putera Parthama, menyebutkan dalam dua tahun terakhir berkat SVLK, volume ekspor produk olahan kayu RI meningkat. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa SVLK diakui dan berpengaruh positif mendongkrak volume ekspor. Terkait pengakuan dari dunia internasional terhadap SVLK, Ida menyebutkan, tahun 2016 lalu, 28 negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE) telah mengakui SVLK.

Parlemen Eropa telah menyetujui usulan Komisi Eropa tentang Pengakuan Lisensi Forest Law Enforchement Governance and Trade (FLEGT) bagi Indonesia tahun 2016 lalu. Komisi Eropa telah menerbitkan regulasi UE yang mengakui bahwa RI telah memenuhi kerangka Undang-Undang Perdagangan Uni Eropa dan Perjanjian Sukarela yang disepakati oleh RI-UE pada 2013. Dengan adanya regulasi itu, RI menjadi negara pertama di dunia yang mengantongi lisensi FLEGT untuk ekspor produk kayu ke pasar UE. Keunggulannya, semua ekspor produk kayu RI bersertifikasi SVLK tidak perlu melalui uji tuntas, sesuai dengan UU Perdagangan UE. UE bahkan mengakui bahan baku produk kayu RI tidak berasal dari penebangan liar.

Sumber: https://elshinta.com/news/96763/2017/02/02/svlk-dongkrak-ekspor-produk-kayu
(2 Februari 2017)