Pertemuan Pertama Pendiri IFM Fund

Pada tanggal 21 Juli 2017 yang lalu, sebuah rapat yayasan telah dilaksanakan di Hotel Santika Bogor. Rapat ini adalah rapat pendiri pertama yang dilaksanakan Yayasan Pemantau Independen Kehutanan Indonesia (Y-PIKI), yang kemudian disebut sebagai Independent Forest Monitoring Fund (IFM Fund). IFM Fund berdiri pada hari Kamis, tanggal 27 April 2017 di Kota Bogor dan sah secara hukum dengan adanya Akte Notaris No. 03/2017 yang dikeluarkan oleh Notaris Publik Ellyza, SH, MKn, serta diregistrasi melalui Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor AHU-0007611.AH.01.04. Tahun 2017.

Bertempat di ruang Board Room lantai 10, Hotel Santika Bogor rapat dimulai pada pukul 13.30 WIB. Seharusnya rapat dimulai pada pukul 13.00 WIB, namun tertunda hingga 30 menit karena menunggu peserta rapat yang datang dari luar Kota Bogor. Christian Bob Purba sebagai Ketua Pengurus Yayasan IFM membuka rapat dan memapaparkan tujuan dan agenda pertemuan.

Kegiatan rapat ini dihadiri oleh sebagian besar pendiri IFM Fund seperti Muhamad Kosar (JPIK), Ian M. Hilman (Eyes of the Forest - WWF Indonesia), Arbi Valentinus (European Forest Institute), Julia Kalmirah (Multistakeholder Forestry Program), Mahendra Taher (Warung Informasi Konservasi - WARSI), Mardi Minangsari (Environmental Investigasi Agency dan JPIK), dan Christian Bob Purba (Forest Watch Indonesia). Ada beberapa anggota yang tidak dapat hadir pada rapat ini, Dr. Ir. Ida Bagus Putera Parthama (Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Zainuri Hasyim (Presiden Perkumpulan Kaoem Telapak). Dirjen PHPL KemenLHK berhalangan hadir karena tengah rapat dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, sedangkan Presiden Perkumpulan Kaoem Telapak tengah menyelesaikan sidang tesis S2-nya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Secara umum pada rapat ini dibahas mengenai tata cara lembaga bekerja yang dituangkan dalam bentuk Standar Operasional Prosedur (SOP) serta rencana strategis kedepan. Otomatis SOP yang baik akan sangat membantu IFM untuk dapat bekerja mencapai tujuan dibentuknya lembaga secara internal dan pada akhirnya secara eksternal dapat mendukung kerja-kerja pemantauan kehutanan. Dan sebagai sebuah lembaga baru, tentunya perencanaan kegiatan ke depan dari lembaga menjadi sebuah keharusan dibicarakan.

Agung Banardono (Agung) dan Rivia Dian (Vivin) dari Penabulu memfasilitasi diskusi SOP Sistem Pengelolaan Program dan Penyaluran Dana Hibah (Grant). Permasalahan penyaluran Grant menjadi topik perbincangkan yang diperdebatkan anggota rapat, terutama travel grant mengingat dilihat dari segi nominal kecil namun pemeriksaan administrasi penting dilaksanakan. Pada akhirnya disepakati setiap travel grant yang diajukan akan diperiksa langsung oleh beberapa petugas tanpa dilakukannya Panel yang akan diadakan setiap bulan, tanpa melalui panel penyelia proposal.

Pada diskusi selanjutnya dibahas tentang rencana dan tahapan lembaga ke depannya. Diskusi ini dipimpin langsung oleh Christian Bob Purba. Ada beberapa usulan yang pada akhirnya disepakati, yaitu monitoring kehutanan dengan sasaran intervensi meningkatkan kualitas tata kelola kehutanan serta dicantumkannya nama Indonesia sebagai daerah intervensi dimana sebelumnya tidak ada batasan wilayah kerja. Saat ini fokus area kerja adalah Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan ini sesuai dengan kesepakatan awal pendiri lembaga.